Wisata

Stasiun Pariaman, Ikon Transportasi Pesisir yang Menguatkan Budaya dan Pariwisata Kota Pariaman

3
×

Stasiun Pariaman, Ikon Transportasi Pesisir yang Menguatkan Budaya dan Pariwisata Kota Pariaman

Sebarkan artikel ini
istimewa

SUMBAROPINI – Stasiun Pariaman kembali menjadi sorotan publik sebagai salah satu stasiun paling unik di Indonesia. Lokasinya yang berada hanya beberapa langkah dari Pantai Gandoriah menjadikan bangunan ini bukan sekadar fasilitas transportasi, melainkan ruang hidup masyarakat pesisir yang terus berdenyut sejak lebih dari satu abad lalu.

Revitalisasi yang dilakukan melalui kolaborasi antara Pemerintah Daerah dan masyarakat setempat berhasil mempertahankan eksistensi Stasiun Pariaman sebagai ikon wisata dan transportasi di Sumatera Barat. Perbaikan fasilitas tidak hanya mengembalikan fungsi pelayanan, tetapi juga menegaskan peran stasiun sebagai wajah budaya pesisir Pariaman.

Setiap hari, 10 perjalanan kereta lokal Pariaman Ekspres relasi Paulima–Naras yang menghubungkan Padang dan Pariaman menjadi nadi mobilitas masyarakat. Kereta ini tak sekadar sarana transportasi, tetapi juga pendorong pertumbuhan sektor wisata dan ekonomi kreatif. Jalur tersebut telah menjadi jembatan yang menyambungkan aktivitas sosial, harapan, serta identitas masyarakat pesisir.

Kepala Humas KAI Divre II Sumbar, Reza Shahab, menjelaskan bahwa bangunan stasiun masih mempertahankan ciri arsitektur fungsional kolonial akhir, lengkap dengan jendela kayu besar dan kanopi logam tua.

Desain tersebut dinilai adaptif terhadap kondisi pesisir, termasuk tiupan angin laut dan tingkat kelembapan tinggi, sehingga menciptakan karakter yang khas dibandingkan stasiun lain di Sumatera Barat.

Sejak mulai beroperasi pada awal abad ke-20, Stasiun Pariaman memainkan peran strategis dalam menggerakkan perekonomian pesisir barat Sumatera, khususnya untuk mobilisasi komoditas seperti kopra dan ikan kering.

Namun seiring berkembangnya Kota Pariaman, fungsi stasiun beralih menjadi simpul utama bagi mobilitas masyarakat dan wisatawan, terutama setelah kawasan Pantai Gandoriah dikembangkan sebagai destinasi unggulan.

Kereta Pariaman Ekspres dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam menyuguhkan pemandangan pesisir dan pedesaan khas Sumatera Barat. Dengan tarif yang terjangkau, kereta ini menjadi pilihan wisatawan yang ingin menikmati perjalanan hemat sekaligus nyaman menuju kawasan wisata pantai.

Transformasi fungsi stasiun terlihat dari dinamika aktivitas harian. Sejak pagi hingga senja, kawasan stasiun menjadi ruang sosial tempat pedagang, pelajar, wisatawan, dan seniman lokal bertemu.

“Dulu kereta itu identik dengan pedagang, sekarang identik dengan wisatawan,” ujar Reza.

Ia menambahkan bahwa pergeseran ini mencerminkan perubahan karakter kota serta meningkatnya minat wisatawan yang menggunakan moda kereta api untuk menuju Pantai Gandoriah dan destinasi lain di sekitarnya.

“Stasiun Pariaman bukan hanya aset transportasi, tetapi juga bagian dari identitas budaya pesisir Sumatera Barat. KAI berkomitmen menjaga kelestarian bangunan bersejarah ini sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi masyarakat dan wisatawan,” ungkap Reza.

Lebih lanjut, Reza menjelaskan bahwa KAI terus melakukan peningkatan pelayanan, termasuk perawatan infrastruktur, peningkatan keamanan stasiun, serta penguatan layanan Kereta Api Sibinuang yang menjadi andalan masyarakat.

“Dengan perpaduan sejarah, budaya, dan potensi wisata yang kuat, Stasiun Pariaman menjadi contoh bagaimana infrastruktur transportasi dapat tumbuh menjadi ruang kehidupan yang menyatu dengan masyarakat. PT KAI Divre II Sumbar berkomitmen menjaga nilai historis sekaligus menghadirkan layanan yang modern, aman, dan nyaman bagi seluruh pelanggan,” tutup Reza.(red)