SUMBAROPINI – Orang tua balita berinisial A yang meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUP Dr. M. Djamil menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap pelayanan rumah sakit.
Doris Flantika, selaku orang tua korban, menilai bahwa anaknya tidak mendapatkan penanganan yang layak, terutama setelah menjalani operasi.
Menurut keterangan keluarga, mereka sempat meminta agar anaknya dirawat di ruang VIP guna menghindari kontak dengan pasien lain.
“Namun, pihak rumah sakit menyarankan agar pasien ditempatkan di ruang ACU bedah umum dengan alasan pertimbangan medis,” katanya kepada wartawan, Rabu (22/4/2026)
Kekecewaan keluarga semakin bertambah saat proses perawatan berlangsung. Doris mengungkapkan bahwa saat anaknya dimandikan, kondisi wadah mandi dinilai tidak steril dan air yang digunakan tampak keruh.
Selain itu, teknik perawatan yang dilakukan oleh petugas disebut tidak sesuai prosedur, sehingga menyebabkan luka operasi anak kembali mengeluarkan darah.
Setelah proses tersebut, kondisi balita dilaporkan memburuk. Anak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi serta perubahan warna pada tangan dan mulut yang tampak membiru.
“Kami telah menyampaikan keluhan ini kepada pihak manajemen rumah sakit, namun merasa tidak memperoleh respons dan penanganan yang memadai,” ungkapnya.
Atas kejadian ini, pihak keluarga menyatakan akan menempuh jalur hukum dengan melaporkan kasus tersebut kepada pihak berwajib.
Mereka juga mendesak dilakukannya audit independen terhadap sistem pelayanan di rumah sakit guna memastikan standar pelayanan kesehatan yang lebih baik di masa mendatang.
“Kami agar terus mengusut ini, berharap hal ini kami lakukan agar hal serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari,” ungkapnya.(Red)






