Pendidikan

Roadshow OlympiAR 2026 di UNP, Mahasiswa Sumatra Ditantang Bersaing di Tingkat Nasional

×

Roadshow OlympiAR 2026 di UNP, Mahasiswa Sumatra Ditantang Bersaing di Tingkat Nasional

Sebarkan artikel ini
Roadshow OlympiAR 2026 yang digelar di Universitas Negeri Padang (UNP).(ist)

SUMBAROPINI – PT Agincourt Resources (PTAR) mendorong mahasiswa di Sumatera untuk berani menguji kemampuan dan bersaing di tingkat nasional melalui kompetisi geosains Olympiade Agincourt Resources (OlympiAR) 2026.

Dorongan tersebut disampaikan dalam roadshow OlympiAR 2026 yang digelar di Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatera Barat, Selasa (8/9/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya PTAR memperluas akses mahasiswa di wilayah Sumatra untuk mengembangkan kompetensi geosains sekaligus mengenal kebutuhan dunia industri pertambangan.

Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources, Katarina Siburian Hardono, mengatakan roadshow di UNP diharapkan dapat membuka kesempatan yang lebih luas bagi mahasiswa Sumatra untuk mengikuti kompetisi dengan standar yang sama dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

“Pesan kami kepada mahasiswa Sumatra sederhana saja: jangan sekadar ikut. Bawa perspektif kalian, uji kemampuan, dan bersaing untuk menjadi juara,” ujar Katarina.

Ia menegaskan, asal perguruan tinggi bukan menjadi faktor penentu keberhasilan peserta dalam OlympiAR. Kompetisi tersebut lebih menitikberatkan pada kemampuan peserta dalam menganalisis data, menyusun solusi, serta membangun kerja sama dalam tim.

“Di OlympiAR, bukan asal kampus yang menentukan hasil, tetapi kualitas analisis, kekuatan solusi, dan kerja tim,” katanya.

OlympiAR merupakan kompetisi geosains tingkat nasional yang diselenggarakan PTAR bersama Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI).

Kompetisi yang digelar setiap dua tahun itu merupakan pengembangan dari program E-Coaching Jam (ECJ), yang telah diinisiasi dan dilaksanakan PTAR sejak 2014.

Hingga 2024, program ECJ telah menghubungkan lebih dari 5.000 mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia dengan puluhan pakar dari beragam bidang. Melalui OlympiAR, proses pembelajaran tersebut kemudian dikembangkan menjadi kompetisi yang berbasis data dan studi kasus nyata di industri.

“Kompetisi ini mendorong kompetensi yang semakin dibutuhkan dari generasi profesional pertambangan masa depan,” ujarnya.

Menurutnya, Sumatra memiliki posisi penting dalam lanskap sumber daya mineral Indonesia. Selain memiliki potensi sumber daya mineral, wilayah tersebut juga didukung sejumlah perguruan tinggi yang memiliki talenta di bidang geosains.

Peluang mahasiswa Sumatra untuk bersaing di tingkat nasional juga telah dibuktikan pada OlympiAR 2024. Saat itu, tim dari Universitas Syiah Kuala berhasil masuk dalam 20 besar.

Capaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa mahasiswa dari perguruan tinggi di Sumatra memiliki kemampuan untuk berkompetisi dengan peserta dari berbagai wilayah Indonesia.

Untuk meningkatkan partisipasi mahasiswa dari Sumatra, OlympiAR 2026 memberikan apresiasi khusus bagi tim terbaik asal Sumatra di luar kategori juara nasional. Penghargaan tersebut tidak memengaruhi proses penilaian maupun penetapan juara utama tingkat nasional.

Memasuki penyelenggaraan ketiga, OlympiAR 2026 mengangkat tema “Orebody to Ecosystem – Integrating Mining Performance and Environmental Resilience.”

Tema tersebut mengajak peserta memahami industri pertambangan secara menyeluruh, mulai dari pemahaman terhadap orebody dan data geologi hingga keterkaitan antara keputusan teknis, kinerja pertambangan, dan ketangguhan lingkungan.

Katarina mengatakan keberhasilan industri pertambangan tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan mengelola sumber daya mineral. Faktor keselamatan, lingkungan, masyarakat, serta keberlanjutan jangka panjang juga harus menjadi pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan.

Karena itu, OlympiAR 2026 tidak hanya menguji kemampuan teknis mahasiswa, tetapi juga mendorong mereka melihat persoalan pertambangan secara lebih komprehensif.

Kompetisi ini terbuka bagi mahasiswa dari bidang Geologi, Geosains, Teknik Pertambangan, Ilmu Kebumian, Teknik Lingkungan, serta bidang terkait lainnya.

Selama rangkaian kegiatan, peserta akan mendapatkan pembekalan dan pendampingan dari praktisi pertambangan berpengalaman PTAR, ahli MGEI, akademisi, serta pakar teknologi geosains independen.

Materi pembekalan antara lain mencakup penggunaan perangkat lunak ioGAS dan pembahasan studi kasus nyata.

Peserta diharapkan mampu memahami bagaimana data dan berbagai pertimbangan teknis digunakan dalam proses pengambilan keputusan di industri pertambangan.

Rangkaian OlympiAR 2026 berlangsung sejak September hingga Desember 2026. Kegiatan tersebut mencakup roadshow dan pembukaan, talk show, kompetisi daring, mentoring, pelatihan, penilaian juri, hingga presentasi final.

Selain memperoleh hadiah, pemenang utama OlympiAR 2026 juga berkesempatan mengikuti program magang di Tambang Emas Martabe, Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Total hadiah yang disiapkan mencapai Rp150 juta. Juara I akan memperoleh hadiah Rp50 juta, tablet, serta kesempatan mengikuti program magang di Tambang Emas Martabe. Juara II mendapatkan Rp30 juta, sedangkan juara III memperoleh Rp20 juta.

Sementara itu, Harapan I dan Harapan II masing-masing mendapatkan hadiah Rp10 juta, ditambah berbagai penghargaan lainnya.

Pada penyelenggaraan 2024, OlympiAR diikuti 161 tim dari 28 universitas. Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan tersebut menjangkau lebih dari 550 mahasiswa. Program tersebut juga meraih Silver Award dalam Indonesian Sustainable Development Goals Awards (ISDA) 2024.

Sementara Rektor UNP Krismadinata mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dengan ekosistem industri.

“Ini bukan sekadar show, tetapi pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dengan sebuah ekosistem,” katanya.

Menurutnya, kegiatan tersebut sangat relevan dengan pembangunan sektor pertambangan yang memiliki peran penting dalam kehidupan. Namun, pengembangan sektor pertambangan harus tetap memperhatikan aspek keselamatan serta keseimbangan alam dan lingkungan.

“Pertambangan memang memiliki peran penting dalam kehidupan, tetapi harus juga memperhatikan keselamatan dalam sebuah pertimbangan. Ada keseimbangan alam dan lingkungan,” ujarnya.

Krismadinata menilai mahasiswa perlu melihat persoalan pertambangan secara lebih luas. Dengan demikian, mereka tidak hanya memahami aspek teknis, tetapi juga mampu melihat dampak dan tanggung jawab yang melekat pada kegiatan pertambangan.

Ia menambahkan, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan seperti OlympiAR menjadi penting karena memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengenal dunia industri sejak di bangku perguruan tinggi.

“Ini penting karena memberi kesempatan mahasiswa mengenal dunia industri. Berguna untuk masa datang,” katanya.(Red)